Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung

Kamis, Juni 22nd, 2017 - Cerita Pemerkosaan
ITIL Performance Management

Cerita Sex Terbaru – setelah sebelumnya ada Buah Dada Murid Les Cewek yang Menggairahkan, kini ada kisah Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung. selamat membaca dan menikmati sajian khusus bacaan cerita sex bergambar yang hot dan di jamin seru meningkatkan nafsu birahi seks ngentot.

Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung

Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung

Sejumlah preman terlihat sedang asik minum-minuman keras di warung yang menjual minuman yang terletak jauh dari keramaian di pinggir kota. Warung itu selalu buka dan hampir tak pernah tutup. Hampir seluruh pengunjungnya adalah laki-laki pemabuk, preman, bandit, rampok, pembuat onar dan tempat itu menjadi sarang penjahat.

Empat dari mereka bermain kartu remi yang sudah lusuh dan yang lima lainnya sedang berbicara dengan Evan. Mereka sedang merencanakan perampokan terhadap toko emas di kota. Setelah berbicara cukup lama, Evan menyalakan Rokoknya, lalu berjalan ke luar warung. Matanya menerawang jauh, menatap jalan kecil yang mulai gelap itu. Sampai matanya agak memicing, karena silau, tersorot lampu mobil.

Mobil Suzuki Carry itu tepat berhenti di samping Evan. Perlahan kaca gelap mobil itu terbuka, dan terlihat sosok gadis muda.
“ malam pak, numpang tanya, perumahan cemara indah, dimana pak..” suara gadis itu begitu lembut, membuat birahi Evan jadi bangkit.

Evan menatap gadis itu, dia tersenyum, di otaknya mencari cara, untuk memperdaya gadis itu.

“ sebenarnya bisa lewat jalan ini terus lurus, tapi jalan di depan ada galian kabel, jadi harus muter, terus lewat gang kecil di sebelah sana..” kata Evan membohonginya.
“ Oh, lewat jalan gang.. yang mana yah pak..” kata gadis itu lagi. “ wah jalannya sempit dan rusak, terus agak belok belok..” kata Evan lagi.

Gadis itu diam, sepertinya binggung. “ begini saja, biar saya antar, saya naik motor, nanti kamu ikuti motor saya..” kata Evan.

Gadis itu tersenyum, “ wah, terima kasih, jadi repotin bapak saja nih..”.

Evan tersenyum, jantungnya berdetak lebih cepat, rencananya sudah makin mendekati ke mangsanya. Evan tersenyum lagi lalu berkata “ tidak apa apa koq, tapi saya mau makan dulu yah.. di warung dalam sana.. kamu tunggu saja sebentar..”.

Evan berencana, untuk mengepungnya bersama teman temannya dan membawanya masuk ke warung itu.

Tapi di luar dugaan Evan, gadis itu malah turun dari mobil suzuki carry itu. “ eh pak, saya juga agak haus.. saya ingin minum juga..” katanya.

Itu langkah yang salah, gadis itu tak menyadari banyak serigala lapar di dalam sana. Evan tersenyum sekali lagi, dan menatap gadis itu. Yang berpakaian seksi dan sensual. Dia mengenakan gaun pesta. Bagian dadanya lumayan rendah membuat belahan dadanya agak terlihat.

Buah dada gadis itu tidak besar, tapi padat dan bulat, dan tetap mengacung walaupun ia tidak mengenakan BH sekalipun. Pantatnya juga terlihat bulat di tutupi oleh gaun pesta itu.

Panjang gaun malam itu hanya sampai sepuluh senti di atas lutut, membuat kakinya yang panjang terlihat jelas, halus, putih mulus. Karena ketatnya gaun yang ia pakai, gadis itu berjalan perlahan, masuk ke dalam warung itu. Rambutnya yang berwarna kecoklatan jatuh tergerai di punggungnya.

Setelah gadis itu berada di dalam warung itu, Dia tidak yakin apakah memang tempat ini yang baik, setelah matanya melihat keadaan di sekelilingnya. Ia sendiri harus bertanya beberapa kali kenapa bisa sampai ke tempat ini.

Gadis itu mulai grogi, dia terus dekat Evan yang asik melahap mie instan rebus, lalu memutuskan untuk memesan teh botol dan sambil berdiri menunggu sebentar.

Keempat orang yang sedang bermain kartu remi memandanginya dengan mata melotot penuh nafsu birahi.Gadis itu sendiri merasa merinding ketika matanya menatap mata mereka. Mereka menjilati bibir mereka setiap kali mata Selly beradu pandang dengan mereka. Tak lama, suasana semakin memanas.

“ pak, ayo tolong antarkan saya.” kata gadis itu pada Romy. Evan tersenyum “ sabar yah, oh iyah nama kamu siapa sih ”. Gadis itu tak menjawab. Tapi Evan bertanya lagi “ eh, nama kamu siapa ?”. “ Desi “ jawabnya singkat.

“ Oh nama eloe bagus juga, “ kata Evan. Desi berkata lagi “ ayo pak, nanti saya bayar ongkosnya, tolong bapak antar saya sekarang “.

Evan tersenyum sinis, lalu tangannya hinggap di pantat Desi dan merabanya. Gadis itu tersendak “ eh.. jangan kurang ajar yah..” katanya. Evan tersenyum menyeringai “ he he he baru gitu aja eleo udah marah, gimana kalo gua entot loe..”.

Nada bicara Evan berubah, yang tadinya lembut,sekarang jadi kasar. Desi menyadarinya, ini tidak baik. Segera dia menuju ke pintu, untuk pergi dari sana. Tapi terlambat, dua orang bandit berada di depan pintu. Mereka berdiri sambil mengusapi selangkangan mereka.

“Hei Non, gimana kalo loe buka baju eleo, jadi kita bisa senang senang!” seseorang dari mereka berkata. “Gimana kalo kita nyanyi sama-sama, sambil telanjang Non?” yang lain menimpali.

Desi mulai panik, “ minggir, saya mau pergi..” katanya.

Tapi seseorang segera mendekatinya dan menempatkan tangannya di bahunya serta mendorongnya duduk di kursi sementara preman itu sendiri duduk di sebelah Desi. “ Hei, apa apa nih..” kata Desi

Kemudian tanpa aba aba, preman itu menjilat dan mencium telinga Desi.Desi berontak, dan menjerit “ apa apa nih, bajingan… “. Lalu tangan Desi reflek menampar pipi preman itu. Teman temannya yang lain tertawa tawa.

Tiba tiba, preman itu mencabut belatinya, dan menancap belati itu di kursi kayu yang di duduki Desi, tepat di antar kedua paha Desi. Untungnya belati itu tak sampai melukai pahanya.

Desi hanya bisa memandangi belati mengkilap itu dengan mulut terbuka tak percaya kejadian ini harus menimpa dirinya.

Ketika Desi tidak mengatakan apa-apa, orang itu memasukkan tangannya ke dalam gaun Desi, merabai pahanya dan berusaha membuka kaki Desi. “ Hei, apa apa nih tolong, jangan “. Desi meronta dan memandang sekelilingnya dengan tatapan memelas mohon pertolongan.

“ Hei, jangan gangu dia, dia milik gua..” bentak Evan. Dan preman itu melepaskan tangannya.

Evan segera mendekati pintu dan menguncinya. Dua orang preman memegang tangan Desi yang terus berusaha meronta dan menjerit, “ Tolong.. tolong… lepaskan… jangan…” dari atas tempat duduknya. Kedua laki-laki itu berkata “ yah terus menjerit.. gua suka dengar suara jeritan eleo…”

Wajah Desi memutih pucat ketakutan, dan memohon pada mereka untuk melepaskan dirinya.

Tapi dua dari preman itu segera menarik tangannya, dan membawanya ke meja kayu, yang biasa dipakai buat makan. Desi terus meronta. Tangan preman itu menjambak rambutnya. Akhirnya mereka berhasil membawa dan membaringkan Desi di meja kayu itu.

Kemudian kedua tangannya di ikat pada kaki meja. Kini tangan Desi, terikat terbuka, satu ke kiri dan satu kekanan. Kini Desi terbaring tak berdaya, dengan tangan terikat seperti di salib. Hanya kakinya yang bergerak menendang nendang tanpa arah. Juga jerit tangisnya yang memilu.

“ Yah, terus berontak, gua suka sekali melihatnya..” kata Evan tertawa. Desi terus berontak, dan menangis memohon dilepaskan. Tapi Evan hanya tertawa. “ eh, eloe orang minggir, liatin gua aja yah, cewek ini punya gua..” kata Evan pada teman temannya.

Teman temannya hanya tertawa tawa.

Lalu Evan segera merobek gaun Desi, dengan bantuan belatinya. Sekali tarik gaun itu lepas seluruhnya di sertai jeritan Desi.

Semua mata langsung tertuju pada tubuh Desi yang hanya memakai celana dalam hitam, dan juga bra yang hitam.

Evan merangkak naik keatas meja. Tapi Desi segera menedangnya. Evan cepat tanggap,menangkis tendangannya, lalu memukul keras perutnya, Desi menjerit kesakitan “ aduh, ampun jangan pukul…”.

Evan pun turun lagi, dan mengikat kedua kakinya pada kaki meja itu. Kini Desi benar benar tak berkutik. Dia terikat diatas meja dengan kaki terbuka lebar. “ Ha ha cewek sialan loe, ayo berontak lagi..” kata Evan.

Desi hanya bisa menitikan air mata. Dan Evan pun segera mendekatkan mukanya pada selangkanan Desi, menciumi aroma vaginanya yang masih terbungkus celana dalamnya. Desi mengelijing dan memohon “ tolong hentikan jangan lakukan ini…”. Tapi itu sia sia saja.

Evan terus saja menciumi celana dalamnya, dan tak lama dengan belatinya itu dia merobek celana dalam dan Bra Desi. Kini tubuh Desi terbuka, tanpa sehelai benang pun. Evan menatap tubuh telanjang gadis itu, demikian juga preman preman bejat lainnya.

Buah dada Desi yang montok, vaginanya yang kecil dengan sedikit bulu bulu kemaluannya. Evan segera mendekat ke vaginanya. Dengan dua jarinya dia membuka lebar bibir vagina Desi.” wah, memek eloe masih bagus yah, apa eloe masih perawan..” kata Evan.

Desi tak menjawab, hanya terisak tangis. Evan pun mejulurkan lidah menjilati klitorisnya. Desi mengelijing dan meronta “ sudah tolong hentikan ”. Evan terus saja bernafsu melumat vagina Desi. Membuat Desi terus mengelijing.

“ aghhh “ jerit Desi, ketika Evan memasukan dua jarinya ke liang wanita Desi. Jari Evan menyolok nyolok vagina Desi dengan cepat. Jerit kesakita Desi, malah semakin membuat gerakkan jari Evan Liar. Evan mengorek ngorek liang vagina Desi. Lalu menarik jarinya keluar.

Evan mencabut jarinya, menatap jarinya yang basah, menyeringai, lalu kembali memasukan jarinya di liang vaginanya. “ rupanya, eloe udah gak perawan yah.. dasar perek ” ejek Evan.

Kembali jarinya menyodok nyodok vagina Desi, membuat Desi mengeram pedih.

Setelah Evan puas memainkan vaginanya, Evan melepaskan ikatan Desi dan langsung menariknya turun dari meja kayu itu.Desi tersungkur di lantai, dan Evan membuka celananya. Penis ngacung keras.

Tiba-tiba, Evan menjambak rambut Desi dan menariknya, Desi menjerit kesakitan “ ahhhh, tolong ampun…”.

Evan memerintahkan Desi untuk segera mengulumnya dan jika ia berani mengigit penisnya, ia akan merontokan gigi Desi.

Evan memajukan penisnya mendekati muka Desi, penisnya yang sudah tegang dan keras, ia menjepit hidung Desi untuk membuat Desi membuka mulutnya. Desi meronta, tapi Kembali Desi menjerit keras, “ Ahhhh … “ ketika satu pululan tepat di mukanya

Ketika Desi kehabisan nafas dan membuka mulutnya untuk menghirup udara, Evan segera mendorong penisnya ke dalam mulut Desi. dan mulai mendorong dan menarik kepala Desi.

Kepala Desi bergerak maju dan mundur tanpa henti, terus menerus. Lipstik Desi yang berwarna merah menempel di batang penis yang ada di mulutnya. Dan ketika kepala penis itu masuk ke tenggorokannya Desi tersedak, tapi Evan tetap mendorong hingga kepala penis itu masuk lebih dalam di tenggorokan Desi.

Air mata mulai meleleh di pipinya. Sambil Desi dipegangi hingga tak bergerak dengan penis yang terbenam hingga tenggorokannya. Evan kemudian menarik penisnya keluar, lalu mendorong lagi.

Setelah kira kira 10 menit, Evan menekan masuk penisnya. Desi tersedak, dan terasa sperma Evan muncrat di tenggorokkannya. Setelah penis itu benar benar terlepas dari mulutnya, Desi segerah memuntahkan sperma yang memenuhi mulutnya.

Seorang dengan perut buncit, tangannya penuh tatto segera menghapiri Desi.Membuka resleting celananya, Tangannya kemudian menjambak rambut Desi dan mulai mendorong masuk penisnya dalam mulut Desi mengantikan Evan

Menggerakan penisnya dengan kasar membuat penisnya kembali bergerak keluar masuk di mulut Desi. Semua orang dapat mendengar suara dahi Desi yang menumbuk perut orang itu, dan erangan Desi yang terdengar setiap kali penis itu masuk jauh ke tenggorokannya.

Ketika laki-laki itu akan mengalami orgasem ia mendorong kepala Desi hingga hidung Desi terbenam di dalam rambut kemaluan orang itu tanpa bisa menarik nafas. Sperma langsung menyembur keluar memenuhi mulut Desi.

Dan dari sudut mulut Desi sperma menyemprot keluar, mengalir turun, menggantung di dagu Desi. Kemudian orang itu mulai bergerak lagi tanpa henti. Sperma terus mengalir keluar, jatuh dari leher Desi.Ketika akhirnya ia menarik penisnya dari mulut Desi, Desi megap-megap menarik nafas dan terbatuk-batuk memuntahkan sperma yang masih ada di tenggorokannya.

Dua orang kemudian memegangi Desi sementara yang lain mulai melepaskan pakaian mereka. Desi sendiri tak berdaya untuk melarikan diri, setelah baru saja ia mengalami shock.

Ketika semuanya telah telanjang bulat, kembali Desi diangkat dan diletakan di atas meja kayu dan langsung dipegangi oleh empat orang laki-laki, setiap orang memegangi tangan dan kakinya. Kaki Desi terbuka lebar dan tubuhnya telentang.

Evan kembali mendekat dan naik ke atas meja. Perlahan ia menggosokan penisnya yang besar ke kaki Desi. Yang lain hanya bisa memandang iri pada penis Evan yang panjangnya hingga 25 senti dan selalu ia yang mendapat kesempatan pertama. Evan memerintahkan orang di dekat kepala Desi untuk mengangkat kepala Desi hingga Desi bisa melihat ketika penis Evan mulai masuk ke vagina Desi.

Orang yang memegangi kaki Desi berusaha membuka kaki Desi lebih lebar. Dengan satu kali dorongan keras, penis Evan dengan keras memasuki vagina Desi. Desi menjerit sekeras-kerasnya, “ AaHHHGG…” dan makin meronta-ronta, tanpa daya menghentikan Evan memperkosa dirinya.
Evan sendiri menikmati sekali segala jeritan dan rontaan Desi. Ia menyeringai setiap kali Desi menjerit kesakitan.

Ketika Evan sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Desi dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuh Desi.

Mereka mulai dengan memainkan buah dada Desi dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya. Desi terus menjerit, pilu “ ahhhggg ampun Ahhhh hentikan tolong….”.

Kaki Desi diangkat tinggi-tinggi dari atas meja sementara tangan-tangan merabainya, menikmati halusnya kaki Desi.

Beberapa menit kemudian jeritan Desi hanya tinggal erangan dan rintihan tapi Evan tetap memperkosa Desi tanpa henti, terus bergerak makin cepat. Setelah lama kemudian, Evan menarik penisnya hingga hampir terlepas dari jepitan vagina Desi, ia mengerang dan maju mendorong ke depan sekuat tenaga.

Kepala Desi terdongak dan jeritan melengking terdengar, melolong panjang keluar dari mulut Desi “ AGHHHH………”. Evan mengejang beberapa saat penisnya menyemburkan sperma ke dalam vagina Desi. Setelah Evan mencabut penis, spermanya pun berhamburan keluar dari liang vagina Desi yang membengkak dan memar.

Laki-laki yang lain kemudian melepaskan pegangan Desi dan bertengkar mengenai giliran siapa selanjutnya.

Desi hanya bisa berbaring, menangis, tubuhnya menjejang kesakitan. kaki dan tangannya masih terbuka lebar, ia menangis histeris. Ia telah diperkosa, dilecehkan, harga dirinya di injak injak.

“Eh perek, kenapa nangis, Loe mustinya nikmatin, soalnya masih banyak cowok yang antri, semua mau cobain memek eloe kita baru aja mulai!” katanya pada Desi.

Seorang laki-laki segera naik ke atas meja setelah Evan turun. Sekarang, Desi dapat merasakan bagaimana bibir vaginanya perlahan membuka kembali dan penis itu sedikit demi sedikit masuk ke dalamnya. Kesakitan kembali tercermin di wajah Desi, ketika ia merasa tubuhnya seperti dirobek oleh penis yang masuk.Desi mengerang lagi “ aghhh sakit…”

“Loe jangan belagu deh! Kalo lo nggak suka sama punya gue atau punya temen gue tadi, masih ada yang laen! Cepet atau lambat lo pasti temuin yang lo suka!” bentak orang itu.

Perkataan orang itu membuat apa yang telah ia takutkan selama ini menjadi nyata. Desi akan diperkosa bergantian oleh seluruh orang yang ada di bar itu. Dan ia tidak punya pilihan sama sekali. Desi hanya bisa menyerahkan dirinya dan melayani mereka hingga selesai.

Sekarang Desi hanya berharap ia bisa keluar dari situ hidup-hidup, dan berharap tidak ada seorangpun yang tahu apa yang telah ia alami.

Tak lama preman itu menyemburkan spermanya ke dalam vagina Desi yang sudah terisi oleh sperma Evan. Lalu dengan segera orang lain menggantikan laki-laki itu, kemudian laki-laki lain menyusul, setelah itu temannya juga mulai memperkosa Desi.

Desi tidak bisa lagi menahan rasa sakit dan ia sudah kehabisan tenaga melayani laki-laki itu. Desi lalu menangis dan memohon pada semuanya agar melepaskan dirinya.” Sudah tolong lah Ahhh saya, sudah tak kuat, ahhh sakit…”.

Tapi Laki-laki yang sedang menindihnya meremas buah dada Desi keras-keras hingga Desi menjerit kesakitan. “ AHHGGG sakit hentikan tolong…”. Dan menarik puting susunya dengan kuat “ AGHH sakit ampunnn…”

“Jangan berisik! Lo belon ngelayanin temen-temen gue! Masih ada lima orang lagi!” bentaknya pada Desi.

Tiba-tiba orang itu menarik penisnya keluar dan merangkak ke dada Desi. Desi sudah sangat ketakutan sekarang hingga ia hanya bisa berbaring dengan mata terpejam erat, menunggu orang selanjutnya yang akan mengambil giliran memperkosanya.

Ia sama sekali tidak menyadari orang yang baru saja memperkosanya mengarahkan penisnya ke muka Desi. Dan tepat sebelum orang itu orgasme Desi membuka matanya. Sperma segera menyembur ke seluruh wajah Desi. Sehingga seluruh sperma itu keluar menyembur dari penis itu.

Ketika orang itu puas ia menarik rambut Desi dan menamparkan penisnya ke wajah Desi. “satu-satunya yang boleh loe mohon cuma ini tau? Loe sendiri yang masuk ke sini pake pakaian merangsang kayak perek, dan loe mohon kita berhenti? Lo bercanda apa? Lo musti ngelayanin kita sampe kita nggak bisa bangun lagi! Ngerti” Orang itu membentak Desi.

Lima orang terakhir kemudian mengambil giliran masing-masing dan memperlakukan Desi sama dengan orang sebelumnya. Ketika hampir orgasme, mereka menarik penisnya keluar, merangkak di atas dada Desi, dan memyemprotkan sperma mereka ke seluruh wajah dan buah dada Desi kemudian menarik rambut Desi untuk membersihkan penis mereka.

Dan ketika orang yang terakhir selesai Desi berbaring hampir tak sadarkan diri.

Wajah, buah dada, dan puting susu Desi seluruhnya dilumuri sperma. Sperma itu mengalir turun dari sisi wajahnya, masuk ke telinga dan leher Desi. Desi tidak bisa membuka matanya karena semuanya tertutup oleh sperma. Desi harus bernafas melalui mulutnya karena sperma sudah masuk ke hidungnya.

Rambut Desi yang kecoklatan terlihat kusut karena terkena sperma yang mengering di rambutnya. Ketika orang-orang itu beristirahat sejenak, Desi hanya berbaring di atas meja, kakinya terbuka lebar dan sperma mengalir keluar dari vaginanya, menunggu orang selanjutnya memperkosa dirinya.

Vagina Desi tampak memar, memerah, dan terasa sakit karena baru saja dimasuki sepuluh orang bergantian tanpa henti.

Dua orang menarik tubuh Desi turun dari meja itu dan menyeretnya ke kamar mandi. Mereka kemudian membersihkan tubuh Desi dengan kertas tisu yang kasar dari sperma yang menempel. Dan ketika tubuhnya diseret keluar lagi, Desi melihat meja tadi telah dipindahkan ke pinggir ruangan.

Di tengah ruangan itu sekarang tergelar matras kusam dan delapan laki-laki telanjang bulat berdiri mengelilinginya. Desi didorong ke tengah-tengah lingkarang orang itu, hingga ia terjatuh ke atas matras, tubuhnya tersungkur tak berdaya untuk mengangkat tubuhnya.

Desi merasakan tangan-tangan di seluruh tubuhnya mulai menarik, mendorong dan mengangkat tubuhnya. Ketika Desi membuka matanya ia melihat seseorang telah berbaring telentang di bawah tubuhnya.

Orang itu adalah si Evan, dan penisnya sudah tegak berdiri. Kedua bibir vagina Desi kemudian dibuka oleh dua pasang jari-jari ketika perlahan tubuh Desi diturunkan mengarah ke penis Evan. Dengan sisa-sisa sperma yang ada, penis itu dapat lebih mudah masuk ke dalam vagina Desi.

Dan Desi sendiri hanya mengerang, merasakan kembali sakit “ Ahggg Aghh perih tolong hentikan sudahh..”

Seseorang kemudian menarik rambutnya, dan sebuah penis lain mendekati mulutnya. Desi dengan perlahan membuka mulutnya, berharap mereka tidak akan menyakitinya jika ia menuruti kemauan mereka. Penis itu masuk hingga ke tenggorokan Desi dan berhenti tak bergerak.

Selanjutnya Desi merasakan sebuah tangan mendorong tubuhnya hingga turun. Kemudian tangan-tangan lain mulai membuka belahan pantatnya. Desi panik dan berusaha merangkak menjauhi tangan-tangan itu. Dengan merangkak Desi membuat penis di mulutnya masuk makin dalam ke tenggorokannya.

“Hei, lo suka juga akhirnya! Kalo gitu ayo mulai aja sayang!” kata orang yang memasukan penisnya ke mulut Desi sambil tersenyum.

Ia mulai menggerakan pinggulnya secepat dan sekuat tenaga. Tubuh Desi yang terdorong mundur karena gerakan orang itu, disambut dengan sebuah penis lain di liang anusnya. Sekarang rasa sakit yang perlahan mulai hilang dari tubuh Desi, kembali menyengat seluruh tubuhnya.

Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi, sakit yang tidak pernah dirasakan Desi sebelumnya. Pikiran Desi menjerit-jerit kesakitan, sedangkan mulutnya hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas diredam oleh penis yang keluar masuk.

Rasa sakit itu makin menjadi-jadi, ketika ketiga orang itu mulai bergerak berirama. Tubuh Desi seperti terkoyak-koyak ketika penis-penis itu bergantian keluar masuk di dalam vagina dan anusnya.

Dua orang kemudian mendekat memegangi tubuh Desi hingga ia tidak terjatuh ke samping. Semua lubang di tubuh Desi, mulut, vagina dan anus dipergunakan oleh mereka untuk memuaskan nafsu mereka secara bersamaan.

Kemudian dua orang terkakhir tadi menarik tangan Desi, melingkarkan jari-jari Desi di penis mereka dan menyuruhnya untuk mulai mengocok penis-penis mereka, sementara dua orang lainnya berlutut di samping Desi, dan menarik buah dadanya untuk kemudian digosokan pada penis mereka.

Sekarang Desi sudah dalam keadaan berlutut, tubuhnya bergoyang maju mundur. Tujuh dari sepuluh orang itu terus-menerus menggunakan tubuh Desi untuk membuat mereka puas. Tidak seorang pun peduli dan melihat bahwa Desi sama sekali tidak bisa bergerak. Semuanya tampak sangat bernafsu memperoleh bagian tubuh Desi.

Setelah beberapa menit rasa sakit itu mulai bisa ditekan oleh Desi. Desi terus memejamkan matanya karena ia tidak ingin melihat bagaiman orang-orang itu mempergunakan tubuhnya untuk memuaskan mereka. Ia hanya berharap semua itu segera selesai, karena dirinya hampir tidak bisa lagi menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.

Orang di anus Desi lebih dulu orgasme. Ketika ia selesai dan menarik penisnya keluar, orang lain maju dan dengan mempergunakan sperma orang yang pertama, ia melumasi penisnya dan memasukannya ke anus Desi. Lalu orang di mulutnya menyemburkan sperma, membuat Desi tersedak tak bisa bernafas, berusaha sekuat tenaga menelan sperma orang itu.

Lalu penis itu ditarik dan digantikan oleh penis lain, yang kali ini lebih besar. Desi berusaha membuka mulutnya, tapi orang itu tidak sabar dan langsung mendorong penisnya masuk, dan mulai bergerak.

Ia mendorong penisnya dalam-dalam dan tidak menariknya keluar, terus menahannya di dalam tenggorokan Desi. Desi kemudian merasakan getaran dari tubuh Evan di bawahnya dan cairan hangat mengalir ke dalam vaginanya, segera setelah itu orang lain menggantikan posisi Evan tadi.

Orang-orang tadi bergantian memperkosa Desi di seluruh lubang yang ada, ia terus menelan semua sperma yang disemburkan di dalam mulutnya. Dua orang di depan wajahnya mengocok penisnya masing-masing dan mengarahkan penisnya ke wajah Desi.

Ketika Desi melihat ke bawah, orang di bawah tubuhnya sedang menatap wajahnya dan kepalanya diganjal oleh kedua tangannya. Tak lama kemudian sperma kembali masuk ke dalam vagina Desi, dua detik kemudian sperma menyembur ke anusnya.

Penis lain kembali masuk ke vagina Desi. Desi kembali memejamkan matanya, ia sekarang hanya bisa mengeluarkan suara erangan, “ aghhh aghh aghh…”. yang semakin tinggi ketika penis lain masuk ke anusnya. Ketika ia membuka matanya lagi, Desi melihat sebuah penis diarahkan ke wajahnya.

Kepala penisnya berwarna ungu bulat, dan beberapa detik kemudian sperma menyembur menghantam wajahnya mengalir masuk ke mulutnya. Orang tubuh kemudian minggir dan sebuah penis lain maju mendekat.

Sepanjang malam Desi terus melanyani sepuluh orang itu hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anusnya paling sedikit satu kali.
Dan ketika orang-orang tersebut puas dan menjauh dari tubuh Desi, tubuh Desi tersungkur, terkapar tak berdaya. Desi lalu mengangkat wajahnya berusaha melihat orang-orang yang mengelilinginya, setelah pemerkosaan Beramai Ramai di Warung remang remang yang terjadi terhadap dirinya, hingga membuat desi pingsan dan tak sadarkan diri.

Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung by Critasex.coCerita Dewasa, Cerita Seks Hot, Cerita Mesum, Cerita ngewe, Cerita Panas, Cerita Ngentot, Kisah Pengalaman Seks, Cerita Porno, Cerita Bokep indo.

Itil Edition ReviewTips ITIL
Pengalaman Diperkosa Beramai Ramai di Warung
by: | Rating: 5